NInews.Online - Kekayaan flora dan fauna negeri ini sungguh luar biasa.
Sepuluh spesies burung kicau (songbird) telah ditemukan di
tiga pulau terpencil Indonesia.
Burung-burung ini merupakan temuan baru di wilayah dengan cakupan geografis kecil dalam kurun waktu lebih dari 100 tahun.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Frank Rheindt dari National
University of Singapore ini menjelajahi pulau Taliabu, Peleng, dan
Batudaka di lepas pantai timur Sulawesi.
Peneliti menjuluki tiga pulau tersebut dengan dunia yang hilang di
Wallacea. Ini tak lain karena lautan dalam yang mengelilingi pulau-pulau
tersebut. Jadi saat permukaan laut jauh lebih rendah, tidak mungkin ada
jembatan darat yang menghubungkan mahluk hidup ke pulau-pulau lain.
“Isolasi ini menjadikan pulau-pulau ini menjadi tempat yang
menjanjikan bagi spesies endemik,” kata Rheindt, dikutip dari Newsweek.
Ia juga menambahkan kalau pulau-pulau itu termasuk pulau yang paling
jarang dikunjungi oleh kolektor sejarah sepanjang pada abad ke-19 dan
awal abad ke-20. Hal itu semakin membuka peluang adanya spesies- spesies
baru yang belum terdeteksi.
Tim peneliti menghabiskan 6 minggu di pulau-pulau itu. Dari
penjelajahan, mereka menemukan lima spesies burung penyanyi bari dan
lima sub spesies baru.
“Beberapa spesies baru sangat jarang ditemukan dalam satu wilayah.
Jadi ini sangat tak biasa dan menjadi sebuah kejutan,” tambah Rheindt.
Namun sayangnya, spesies baru yang ditemukan ini terancam oleh hilangnya habitat, baik yang disebabkan manusia dan lingkungan.
“Pulau yang kami kunjungi telah kehilangan habitat yang besar. Hutan
di dataran rendah Taliabu telah ditebangi dan kini penebang sudah
menembus hingga ketinggian 1000 meter.
Kekeringan panjang juga menyebabkan kebakaran di hutan Taliabu.
Kejadian ini menghancurkan sebagian area dan ini mengancam spesies di
sana.
“Kekeringan, kebakaran, dan suhu yang makin panas di masa depan akan
menyebabkan semakin berkurangnya habitat yang cocok untuk burung-burung
ini. Termasuk di dalamnya yang sangat terancam adalah spesies baru
Taliabu Belalang Warbler yang memiliki habitat di dataran tinggi,” papar
Rheindt.
Untuk itu Rheindt menyebut perlu adanya tindakan konservasi jangka
panjang. Ia dan timnya juga berencana untuk melanjutkan ekspedisi
lanjutan untuk menemukan spesies-spesies baru lainnya.


0 comments: