NInews.Online - Oleh: M Rizal Fadillah
KEJUTAN lagi dari KPK yakni tertangkap tangan
Komisioner KPU Wahyu Setiawan dalam kasus suap penetapan anggota DPR RI
terpilih periode 2019-2024 dari Partai PDIP. Penyidikan berlanjut ke
markas PDIP. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto bakal turut diperiksa.
Kantor PDIP Jl. Diponegoro dicoba digeladah tapi belum terealisasi.
Masih ada hambatan administrasi menurut petinggi partai.
Kaus suap ini berkaitan dengan perjuangan menjadikan Harun Masiku
Caleg PDIP Dapil I Sumatera Selatan sebagai anggota DPR RI menggantikan
Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia. KPU telah menetapkan Riezky
Aprilia sebagai pemenang suara terbanyak kedua sebagai pengganti.
Surat pengajuan PDIP untuk Harun Masikhu ditandatangani Hasto Kristiyanto.
Wahyu memimpin operasi dan biaya operasional yang diminta sebesar 900
juta. Secara bertahap dana telah dialokasikan. Bahasa yang dinyatakan
"Siap, mainkan !".
"Siap, mainkan !" menandai kesiapan mengupayakan sesuatu yang
musykil. Urutan keenam ingin menggeser urutan kedua dengan dasar
otoritas partai. Meski sementara gagal dan KPU masih bergeming namun
adanya kesiapan memainkan menandai celah itu ada dan masih terbuka.
Delapan orang sudah diamankan KPK.
Adakah permainan itu hal yang biasa?
Akankah kasus Wahyu Setiawan merembet pada keterlibatan Komisioner
lain, atau lebih mengejutkan Wahyu bisa membongkar kasus lain yang
melibatkan para Komisioner ?
Wahyu diduga sedang memegang kartu.
Mungkinkah PDIP yang ditarget itu juga akhirnya membalas membongkar
persekongkolan lain, misalnya dalam Pilpres ? Masih ditunggu episode
lanjutan "KPU Gate".
Dari awal ketika hitung suara hasil Pilpres 2019 sudah terasa aroma
KPU yang diragukan kebersihannya. Kecurangan masih menggema hingga kini.
Ada yang berseloroh "sekarang boleh ditutup, besok akan terbuka juga".
Ketika Prabowo siap menjadi Menteri Jokowi, pendukung kecewa dan
berkomentar bagaimana bisa bersekutu Prabowo dengan Presiden yang
mendapat suara melalui kecurangan ? Komentar itu muncul ketika pembela
Prabowo menyatakan bahwa kesiapan menjadi Menhan adalah bagian dari
strategi.
Wahyu Setiawan adalah "penjebol" benteng kokoh KPU. Publik ingin
melihat efek dari penjebolan ini. Adakah KPU dan Wahyu itu satu atau
Wahyu hanya satu satunya yang curang dari Komisioner KPU. Kita patut
memonitor sikap dan reaksi Arif Budiman Ketua KPU terhadap kasus yang
menimpa rekannya ini.
Kita berharap KPK serius dan serius


0 comments: