NInews.Online - Indonesia dan China membuka awal tahun 2020 dengan kerja sama ekonomi
dua BUMN dengan nilai 695 juta dolar AS atau setara dengan Rp 9,5
triliun (Rp 13.657/dolar AS).
Kontrak tersebut merupakan proyek pembangunan Smelter-Grade Alumina
Refinery antara PT Borneo Alumina Indonesia (PT BAI) dengan Konsorsium
PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PT PP) dan China Aluminium
International Engineering Corporation Limited (CHALIECO).
Adapun
kontrak Engineering, Procurement, and Construction (EPC) itu
ditandatangani di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing
pada Sabtu (11/1) pukul 11.11 WIB.
"Apresiasi kami sampaikan kepada pihak-pihak yang telah mendukung hingga
terwujudnya kontrak EPC untuk pembangunan Alumina Refinery yang telah
lama menjadi cita-cita Indonesia untuk mewujudkan industri pengolahan
alumunium mandiri," ujar Konselor KBRI Beijing, Victor S Hardjono.
Berkat kerja sama ini, diharapkan fase konstruksi refinery akan selesai pada 2022. Sehingga Indonesia akan mampu memproduksi alumina dengan kapasitas mencapai 1 juta ton/tahun.
Dengan adanya refinery
di Kabupaten Mempawah tersebut, juga diharapkan dapat meningkatkan
nilai tambah industri Indonesia dan menekan angka defisit neraca
perdagangan.
Mengingat saat ini Indonesia masih bergantung
kepada industri pengolahan di luar negeri dengan melakukan ekspor bijih
bauksit dan mengimpor alumina sebagai produk olahan bijih bauksit
tersebut. Hal ini tentunya meningkatkan biaya produksi Indonesia dan
rentan terhadap perubahan harga komoditas.
Nantinya, PT BAI menjadi anak perusahaan BUMN Inalum dan ANTAM,
sementara PT PP merupakan BUMN di bidang infrastruktur akan
berkolaborasi. ANTAM akan menjadi supplier bijih bauksit, sementara PT
BAI akan menjual alumina kepada PT Inalum.
Dengan demikian, industri aluminium dapat sepenuhnya diproduksi di dalam negeri.


0 comments: